![]() |
| blogpost itu |
Guess what? It was granted.
Sebenarnya ketika saya mengetik post itu, saya berharap akan diterima kerja di Jepang. Tapi ternyata doa saya dikabulkan dengan skenario lain.
Malang.
Di kota ini, saya memulai lembaran hidup baru.
Apa saya sedih karena mimpi saya untuk hidup di Jepang tidak terwujud?
Ya. Tapi di lain sisi, mungkin memang Allah telah menentukan takdir saya. Kalau saya di Jepang, ketika Papah sakit, di waktu yang sama saya sedang menjalani tahap akhir training bahasa Jepang sebelum secara resmi bekerja pada bulan April. Kalau itu terjadi, mungkin saya tidak akan sempat berada di sisi Papah di saat-saat terakhirnya. Saya tidak akan sempat menggenggam tangannya, juga didoakan olehnya di saat kritisnya. So yeah, maybe it's all for the best. Alhamdulillaah...
Saya tidak akan sekuat itu untuk menuliskan memori tentang Papah sekarang, jadi saya akan menceritakan kehidupan 'baru' saya di kota ini.
It's been almost 7 months of me being here.
Alhamdulillah, 7 bulan di tempat baru, berkenalan dengan orang baru, mengaplikasikan hasil training saya dan mempelajari banyak hal baru di dunia kerja yang sama sekali baru.
Di antara hal-hal baru itu, ada satu hal yang baru saya sadari; bahwa saya juga menjadi orang dengan kepribadian baru.
Awalnya saya tidak menyadari hal ini. Sampai suatu ketika ketika lembur di kantor, ada seorang teman yang bertanya pada saya; apakah saya punya pacar? Saya jawab tidak ada. Ia kemudian bertanya lagi; Kenapa? Saya bilang kenapa harus ada alasannya?
Kemudian si penanya ini menceritakan banyak hal tentang dirinya; keluarganya, teman-temannya, pacarnya, dan sebagainya. Di akhir cerita, ia mengatakan alasan mengapa ia bertanya pertanyaan-pertanyaan tadi kepada saya.
"Aku dulu pernah gak punya teman mbak, semuanya aku pendam sendiri. Tapi akhirnya aku sadar itu nggak sehat, makanya sekarang aku banyak cerita sama orang."
"Aku liat mbak orangnya ceria, tapi di satu sisi, aku pikir mungkin mbak punya cerita lain. Kalau ada apa-apa, aku bisa kok mbak jadi tempat cerita."
Saya sadar ngga sadar sebenernya, kalau saya bisa jadi orang dengan kepribadian berbeda bergantung dari dengan siapa saya berinteraksi. Di sisi lain, saya tahu betapa sulitnya berinteraksi dengan orang yang tidak ramah, jadi saya berusaha untuk menjadi ramah akhir-akhir ini.
Tapi hal ini juga membuat saya berpikir; seperti apakah 'saya yang sebenarnya' itu?
Yang saya tahu, saya lebih baik dalam mengekspresikan diri dalam bentuk tulisan, daripada lisan. Dengan membaca blog saya sebenarnya, orang bisa menebak bagaimana 'saya' yang sebenarnya. Oleh karena itu kadang saya takut untuk membagi link blog ini ke orang-orang yang kenal saya di kehidupan nyata. Saya mungkin dinilai sebagai orang yang terlalu berbeda, jika dilihat dari interaksi di kehidupan nyata, dan di blog ini.
Mungkin saya juga sedikit trauma, because my past boyfies know me as real me, and all of them decide that it's too hard for them to handle that me, so they went away. Mungkin.
Saya belum memutuskan apakah saya akan menceritakan mengenai diri saya, permasalahan yang saya hadapi, atau hal lain kepada penanya tersebut. Saya tidak tahu apakah ia cukup dapat dipercaya untuk melihat sisi diri saya yang itu. Meskipun hal ini sebenarnya tidak penting juga; memangnya harus banget dia kudu bisa dipercaya? Memangnya kamu siapa jadi nggak semua orang bisa tahu siapa kamu sebenarnya?
Tapi yah, mungkin biarkan saja semua mengalir secara alami. Jika suatu saat saya memang ingin bercerita, saya akan cerita. Begitu saja.

Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire