Affichage des articles dont le libellé est moko. Afficher tous les articles
Affichage des articles dont le libellé est moko. Afficher tous les articles

mardi 11 juin 2013

Randomness - part 1 - Moko!

Banyak yang ingin saya tulis, belakangan ini kerandoman semakin menjadi-jadi, apalagi setelah revisi yang menumpuk serta data tugas akhir yang salah sehingga kerjaan semakin banyak menumpuk. Sebagai pelarian tugas akhir, saya pun menyibukkan diri dengan berbagai macam hal.
Dimulai dari tanggal 31 Mei 2013, hari itu saya diajak mantan teman sekamar (namanya Fitri) untuk makan cheesecake di Harvest. Setelah makan, karena masih ingin jalan-jalan dan malas pergi ke mall, akhirnya tercetuslah ide untuk pergi ke Moko.
Sebenarnya sudah sejak setelah kejadian 270513 saya ingin banget pergi ke moko, mungkin rasanya asik untuk terjun bebas dari sana, tapi karena tidak ada yg mau diajak *sok sibuk kalian, cih* dan karena kemarinnya baru kecelakaan, jadinya rencana tersebut ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan. Tapi karena mood saya-nya sedang ingin kesana apapun yg terjadi *halah*, berangkatlah kami kesana....
Sebelumnya saya pernah memposting cerita tentang moko di blog ini pada 20 Juni 2012, namun karena udah dibuat jadi draft, jadi mesti tulis lagi deh dimari :p
Moko adalah salah satu tempat yang paling saya suka di Bandung. Tempatnya jauh dari keramaian, sekitar 45 menit kalau naik motor dari Jalan Dago. Dapat dicapai dengan mengikuti jalan Padasuka di Cicaheum dari Saung Angklung, lalu naik sampai di desa Cimenyan. Biasanya saya kesini naik motor, dua kali bawa motor sendiri, dua kali dibonceng Mayang.
Jarak dari Saung Angklung sampai puncak kalau yang saya lihat dari blog lain sekitar 17km, namun memakan waktu sekitar 30 menit jika naik motor, dan 3 jam jika naik sepeda. Tapi perjuangan banget kayaknya kalau pake sepeda, orang pake motor aja capeknya ampun2an, apalagi tanjakan terakhir dari mulai tulisan “Warung Daweung” sampai ke bangunan warungnya, karena jalannya belum aspal, hanya kerikil-kerikil kecil. Yang paling heboh tentu saja naik mobil, butuh skill tinggi. Dari empat kali berkunjung kesana, sangat jarang saya melihat ada mobil yang parkir di parkiran warung. Yang saya tahu hanya si pacar Mayang yang bisa kesana naik mobil, bahkan Kak Pris aja gak nyampe.
Tapi sampai di puncak, maka perjuangan melewati sekitar 11 desa (dilihat dari banyaknya gapura pembatas yang saya dan Mayang hitung dari bawah) langsung terbayang tatkala melihat pemandangan SELURUH Kota Bandung. Tapi yang paling saya sukai bukan pemandangan kotanya, melainkan pemandangan beratus-ratus bintang yang gak akan terlihat sebanyak itu saat kita berada di kota Bandung nya sendiri ^^
Anyway, ini foto pemandangan kota Bandung yang saya ambil dari Warung Daweung, diedit sedikit dengan filter Instagram:

pemandangan kota Bandung dari moko

Akhirnya, se-maghrib-an saya menghabiskan waktu dengan memandangi langit berubah warna menjadi gelap dan lampu-lampu kota menyala satu persatu, ditemani sebotol Aqua dan semangkuk mie rebus.
Tapi belum,, belum bisa menghilangkan gundah gulana saya yang diakibatkan oleh TA ini *nangis bombay*.