dimanche 19 juin 2016

I didn't quit...

One fine day, it will be your turn. You will leave homes, cities, and countries to pursue grander ambitions. You will leave friends, lovers, and possibilities for the chance to roam the world and make deeper connections. You will defy your fear of change, hold your head high, and do what you once thought was unthinkable; walk away. And it will be scary. At first. But what I hope you'll find in the end is that in leaving, you don't just find love, adventure, or freedom. More than anything, you find you.


After my contract has expired from the company I mentioned in the previous post, about a week later someone from another company contacted me. I actually sent my CV to this company weeks ago. One of my colleagues recommended this company since they're currently needing an instrument engineer for their upcoming projects. They contacted me on Tuesday to arrange an interview on the next day, Wednesday. I was okay with it since I had no other activities to do that week, except conducting experiment -which I was too 'mager' to do-.

I went to their office on Wednesday, and they gave me some tests; math and literacy, to do. After finishing the tests, they took me to meet the head director. We did some talks, mostly about personal life, some philosophy, etc. Then he asked me to meet the HR director which asked me to come again tomorrow.

Dan, -jeng jeng jeng- ternyata besokannya saya benar-benar langsung diminta kerja, Langsung di-assign ke sebuah project yang baru jalan. Bingung? Banget! Memang, saya punya pengalaman kerja sebelumnya, tapi yah itu cuma setahun, dan kebanyakan projects-nya seputar O&G. Sedangkan di perusahaan tsb saya ditanya-tanya untuk instrumentasi plant aspal. Lalu beberapa hari kemudian saya diminta untuk membantu membuat P&ID untuk incinerator.

Saya nggak terlalu bermasalah sebenarnya dengan pekerjaan yang diberikan, jujur saya malah suka dengan sistem kerja di kantor tsb dimana head director-nya merupakan seseorang yang sangat berbakat menjadi leader dan gak cuma boss. Beliau sangat mendorong anak buahnya untuk berkembang dan selalu mewanti-wanti agar kami jangan pernah takut untuk berkembang. Kesalahan satu-dua kali tidak menjadi masalah bagi beliau karena beliau paham betul bagaimana cara membantu orang lain untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari. Seminggu disana, saya belajar banyak sekali dari beliau, mulai dari filosofi pendinginan oleh AC,  bagaimana sistem otak manusia dalam menerima informasi, hingga bagaimana -manage orang lain. Dalam seminggu (dikurang dua hari saya bolos, hehe), hampir setiap hari beliau memanggil saya ke ruangannya. Sepertinya beliau senang sekali menerima anak buah baru sesama 'cap gajah' di kantor, dan sangat excited untuk 'menurunkan ilmu' sebanyak-banyaknya ke saya.

Namun ada sebuah permasalahan yang mengganggu pikiran saya dan mempengaruhi keputusan saya untuk kemudian mengajukan resign di kantor tersebut; Saya merasa perkuliahan dan terutama penelitian saya terbengkalai.

Memasuki semester tiga, urgensi untuk menyelesaikan penelitian (dalam hal ini, 'memulai penelitian' untuk saya) menjadi satu hal yang cukup mendesak. Saya tidak terlalu ngebet sih buat 'lulus cumlaude tiga semester', tapi kalau kuliah bisa segera diselesaikan kenapa tidak? Kan biar nanti nikahnya makin cepet juga. Setelah dua hari mendinginkan kepala, berpikir mengenai status mahasiswa, kesempatan untuk mempelajari banyak hal selain akademik, kesempatan untuk membuka wawasan lebih besar melalui exchanges, dsb., akhirnya saya memutuskan untuk menghadap HR dan mengajukan resign.

Saya harap keputusan yang saya ambil merupakan keputusan yang terbaik, meskipun saya harus menyusahkan beberapa pihak dalam eksekusinya. Dalam setahun ke depan, Insya Allah saya akan berusaha untuk menjalani (dan juga memanfaatkan, hehe) status 'mahasiswa' sebaik-baiknya.

English Club,
Korean Intensive Course,
VGTU Spring Intake 2017,
I'm Coming!

Aucun commentaire: