Kadang ada orang yang bertanya sama saya, “Susah gak sih, kuliah sambil kerja?”.
Biasanya pertanyaan itu saya jawab dengan cepat dan singkat karena saya tahu orang yang bertanya pasti hanya basa-basi. Jawaban saya biasanya adalah, “Biasa aja.” Setelah itu percakapan berakhir.
Tapi sebenarnya kalau dipikir-pikir lagi, saya punya jawaban yang cukup panjang untuk pertanyaan yang sama. Tapi saya kurang yakin ada orang yang mau mendengarkan jawaban panjang tersebut.
“Tergantung...”
“Jawaban untuk pertanyaan tersebut dapat dibalikkan menjadi pertanyaan baru untuk penanya; Kembali lagi, tujuan ingin kuliah sambil kerja-nya itu apa.”
Jujur saja, kalau saya pribadi, saya kuliah lagi karena saya belum dapat mewujudkan impian untuk mendapatkan pekerjaan saat itu. Orang tua dan keluarga saya sebenarnya lebih ingin saya melanjutkan kuliah lagi ke luar negeri. Tapi keinginan saya bukan itu.
Jujur se-jujur-jujur-nya. Saya tidak ingin kuliah lagi. Saya lebih ingin bekerja dan menjadi profesional daripada berkutat kembali dengan kampus, penelitian, dan segala macam isinya. Tapi saya tahu saya juga punya kewajiban untuk membahagiakan orang tua saya. Mereka ingin saya kuliah lagi, oke. Tapi saya ingin berusaha mencari kerja dulu. Tenggat waktu yang saya buat waktu itu adalah dua tahun. Saya lulus sarjana tahun 2013, apabila sampai 2015 saya belum mendapatkan pekerjaan, maka saya akan mendaftar untuk kuliah lagi.
Akhirnya, hingga menjelang pertengahan tahun 2015, panggilan untuk bekerja belum juga tiba. Hingga pada bulan April/Mei akhirnya saya mendaftar untuk kuliah lagi, pada almamater yang sama. Perkuliahan waktu itu akan dilaksanakan bulan Agustus 2015.
Namun rencana Tuhan tidak ada yang dapat mengira, pada bulan Mei saya mendapatkan panggilan untuk bekerja di salah satu perusahaan konsultan swasta dan mereka mengijinkan saya bekerja sembari kuliah. Akhirnya, Juni 2015 saya mulai bekerja dan Agustus di tahun yang sama, saya melanjutkan kuliah juga.
Lalu kembali ke pertanyaan tadi, apakah saya merasa berat untuk menjalani kedua hal tersebut bersamaan?
Jawabannya mungkin tidak.
Saya menyukai pekerjaan saya, meskipun masih banyak hal yang saya belum paham dan banyak hal yang belum bisa saya lakukan dengan baik. Di sisi lain, saya sadar betul jika keputusan untuk menjadi mahasiswa lagi adalah keputusan yang saya buat sendiri dan mau tidak mau saya harus menjalani konsekuensi dari pilihan itu.
Tapi memang dari setiap hal, pasti ada sisi kekurangan yang tidak bisa dihindari. Dari kehidupan yang saya jalani ini, saya tahu saya tidak akan bisa memenuhi ekspektasi semua orang. Saya tahu bahwa saya tidak bisa memenuhi ekspektasi boss di kantor untuk selalu memberikan performa terbaik saya ketika berada di kantor. Saya tahu bahwa saya tidak bisa memenuhi ekspektasi professor di lab untuk selalu memberikan progress penelitian tiap minggu.
Mungkin saya bisa berusaha untuk melakukan hal-hal tersebut, tapi saya tidak ingin. Saya tetap ingin menjalani kehidupan dengan santai dan bahagia. Saya ingin tetap dapat melakukan semua hal yang berhubungan dengan rumah-tangga sendiri, saya ingin tetap dapat pergi jalan-jalan dan main dengan teman-teman, saya ingin tetap dapat tidur nyenyak setiap harinya, dan hal-hal kecil yang mungkin orang rasa sepele tapi bagi saya itu sesuatu yang kadang terasa mahal.
Saya pikir apabila saya tidak bisa memenuhi harapan semua orang, setidaknya saya bisa memenuhi harapan diri saya sendiri untuk tetap hidup bahagia.
Aucun commentaire:
Enregistrer un commentaire