jeudi 7 janvier 2016


Pernah suatu ketika saya sedang mengerjakan sesuatu di kosan dengan keadaan TV menyala...
*sombong banget deh yang udah punya TV pribadi di kamar*
*bukan contoh yang baik karena menghabiskan energi listrik untuk sesuatu yang kurang penting*.

-Ehm, lanjut lagi ceritanya-

Jadi suatu ketika saya mendengar wawancara mengenai fashion di TV yang sedang menyala unattended tersebut. Kira-kira kata-kata yang diucapkan seorang wanita muda yang diwawancara di acara tersebut seperti ini:
"Iya baju aku ini dari H&M, roknya dari Zara, aksesorisnya dari xxx *brand entah apa lagi*...."
Lalu kemudian diwawancarai juga seorang lelaki muda bergaya modis:
"Kalau gue sih simpel aja ya, topinya dari xxx, baju dari xxx, celana xxx *segala macam brand disebut*...."
-dan masih banyak lagi percakapan lainnya yang membuat muka saya berpaling dari kerjaan ke layar TV-


WOW

Warbyazah. Saya terkesima dengernya loh.

Berbangga sekali mereka dengan apa yang mereka kenakan, padahal -apa yah- menurut saya nggak ada value-nya.

Saya bukan orang yang skeptis terhadap brand, saya juga terkadang suka membeli barang dengan brand tertentu dikarenakan beberapa brand memang memiliki kualitas material yang lebih bagus sehingga menjadikan barang tersebut lebih awet.


But this?

Saya sih merasanya mereka seperti 'memamerkan' harga diri mereka sesuai dengan harga pakaian dan aksesori yang mereka gunakan. It's like saying "Baju gue mahal nih, aksesoris yang gue pake dari ujung kepala ke ujung kaki semuanya branded, harganya mahal, gue orang tajir, lo mesti memperlakukan gue sesuai dengan harga gue yang tinggi seperti harga barang-barang yang gue pake".

Aucun commentaire: